VIRAL24.CO.ID – MEDAN – Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Bobby Nasution menegaskan keseriusannya dalam menangani hama lalat buah yang menyerang tanaman jeruk. Fokus penanganan diarahkan pada pendataan, pengendalian hama, serta penyelesaian persoalan yang dihadapi petani.
Bobby meminta pemerintah kabupaten penghasil jeruk, yakni Karo, Simalungun, Dairi, Pakpak Bharat, dan Tapanuli Utara, menyiapkan data akurat terkait luas lahan dan jumlah petani. Data tersebut dinilai penting untuk menyusun kebijakan yang tepat sasaran.
“Action-nya harus tepat, terutama data, karena kita akan bergerak dari situ,” ujar Bobby seusai memimpin Rapat Koordinasi Produksi dan Hilirisasi Komoditas Jeruk di Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro, Medan, Senin (25/8/2025).
Selain pendataan, Bobby juga menekankan pentingnya penerapan teknologi dari PT Agrari dalam pengendalian lalat buah, serta penanganan persoalan pendanaan petani jeruk yang dinilai cukup kompleks. Ia menyebut Pemprov Sumut akan melakukan intervensi langsung dalam satu bulan ke depan.
“Semua kegiatan ini harus benar-benar dilakukan di lapangan, dibuat programnya, lengkap dengan legalitas. Kita akan intervensi satu bulan ke depan,” tegasnya.
CEO PT Agrari, Robertus Theodore, menyebut masalah utama yang dialami petani jeruk adalah pendanaan. Menurutnya, banyak petani terlilit utang hingga kebunnya terbengkalai atau beralih ke tanaman lain.
“Tidak sedikit petani jeruk yang benar-benar kesulitan. Mereka terlilit hutang, tidak bisa mengakses kredit perbankan, dan produksinya merugi. Bersama Pak Gubernur, kita berusaha mencari solusi,” kata Robertus.
Ia menambahkan, skema penanganan yang berhasil diterapkan di Liang Melas Datas (LMD), Karo, bisa menjadi model untuk daerah lain.
“Masalah lalat buah harus diselesaikan secara kolektif dalam satu kawasan. Jika tidak serius, jeruk Karo bisa punah seperti di daerah lain,” jelasnya.
Bupati Karo, Antonius Ginting, mengungkapkan luas lahan jeruk yang masih aktif kini hanya 4.841 hektare, jauh berkurang dibandingkan beberapa tahun lalu yang mencapai 20.000 hektare.
“Kita akan kategorikan kembali lahan yang bisa diterapkan metode ini, dengan indikator tertentu agar penanganan lalat buah lebih efektif,” kata Antonius.
Pertemuan tersebut juga dihadiri Bupati Dairi Vickner Sinaga, Wakil Bupati Pakpak Bharat Mutsyuhito Solin, serta perwakilan daerah lainnya. Hadir pula Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Sumut, Rajali, bersama sejumlah OPD terkait. (V24/RT)












